This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 01 Mei 2013

Macam-Macam Sensor

MACAM-MACAM SENSOR



1. Sensor Proximity


     Sensor proximity merupakan sensor atau saklar yang dapat mendeteksi adanya target jenis logam dengan tanpa adanya kontak fisik. Biasanya sensor ini tediri dari alat elektronis solid-state yang terbungkus rapat untuk melindungi dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif yang berlebihan. Sensor proximity dapat diaplikasikan pada kondisi penginderaan pada objek yang dianggap terlalu kecil atau lunak untuk menggerakkan suatu mekanis saklar.

2. Sensor Magnet
      Sensor Magnet atau disebut juga relai buluh, adalah alat yang akan terpengaruh medan magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada keluaran. Seperti layaknya saklar dua kondisi (on/off) yang digerakkan oleh adanya medan magnet di sekitarnya. Biasanya sensor ini dikemas dalam bentuk kemasan yang hampa dan bebas dari debu, kelembapan, asap ataupun uap.

3. Sensor Sinar
       Sensor sinar terdiri dari 3 kategori. Fotovoltaic atau sel solar adalah alat sensor sinar yang mengubah energi sinar langsung menjadi energi listrik, dengan adanya penyinaran cahaya akan menyebabkan pergerakan elektron dan menghasilkan tegangan. Demikian pula dengan Fotokonduktif (fotoresistif) yang akan memberikan perubahan tahanan (resistansi) pada sel-selnya, semakin tinggi intensitas cahaya yang terima, maka akan semakin kecil pula nilai tahanannya. Sedangkan Fotolistrik adalah sensor yang berprinsip kerja berdasarkan pantulan karena perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau laser) ataupun target pemantulnya, yang terdiri dari pasangan sumber cahaya dan penerima.

4. Sensor Ultrasonik
   Sensor ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaannya. Perbedaan waktu antara gelombang suara dipancarkan dengan ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut adalah berbanding lurus dengan jarak atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang dapat diindera diantaranya adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.

5. Sensor Tekanan
     Sensor tekanan - sensor ini memiliki transduser yang mengukur ketegangan kawat, dimana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Dasar penginderaannya pada perubahan tahanan pengantar (transduser) yang berubah akibat perubahan panjang dan luas penampangnya.

6. Sensor Kecepatan (RPM)
      Proses penginderaan sensor kecepatan merupakan proses kebalikan dari suatu motor, dimana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar sering pula diukur dengan menggunakan sensor yang mengindera pulsa magnetis (induksi) yang timbul saat medan magnetis terjadi.

7. Sensor Penyandi (Encoder)
     Sensor Penyandi (Encoder) digunakan untuk mengubah gerakan linear atau putaran menjadi sinyal digital, dimana sensor putaran memonitor gerakan putar dari suatu alat. Sensor ini biasanya terdiri dari 2 lapis jenis penyandi, yaitu; Pertama, Penyandi rotari tambahan (yang mentransmisikan jumlah tertentu dari pulsa untuk masing-masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang kotak pada objek yang diputar. Kedua, Penyandi absolut (yang memperlengkapi kode binary tertentu untuk masing-masing posisi sudut) mempunyai cara kerja sang sama dengan perkecualian, lebih banyak atau lebih rapat pulsa gelombang kotak yang dihasilkan sehingga membentuk suatu pengkodean  dalam susunan tertentu.

8. Sensor Suhu
      Terdapat 4 jenis utama sensor suhu yang umum digunakan, yaitu thermocouple (T/C)- lihat gambar 1.6, resistance temperature detector (RTD), termistor dan IC sensor. Thermocouple pada intinya terdiri dari sepasang transduser panas dan dingin yang disambungkan dan dilebur bersama, dimana terdapat perbedaan yang timbul antara sambungan tersebut dengan sambungan referensi yang berfungsi sebagai pembanding. Resistance Temperature Detector (RTD) memiliki prinsip dasar pada tahanan listrik dari logam yang bervariasi sebanding dengan suhu. Kesebandingan variasi ini adalah presisi dengan tingkat konsisten/kestabilan yang tinggi pada pendeteksian tahanan. Platina adalah bahan yang sering digunakan karena memiliki tahanan suhu, kelinearan, stabilitas dan reproduksibilitas. Termistor adalah resistor yang peka terhadap panas yang biasanya mempunyai koefisien suhu negatif, karena saat suhu meningkat maka tahanan menurun atau sebaliknya. Jenis ini sangat peka dengan perubahan tahan 5% per C sehingga mampu mendeteksi perubahan suhu yang kecil. Sedangkan IC Sensor adalah sensor suhu dengan rangkaian terpadu yang menggunakan chipsilikon untuk kelemahan penginderanya. Mempunyai konfigurasi output tegangan dan arus yang sangat linear.

KONSEP DASAR ELEKTRONIKA DIGITAL


KONSEP DASAR ELEKTRONIKA DIGITAL

Dalam bidang teknologi, bidang bisnis atau bidang yang lain kita selalu berurusan dengan kuantitas-kuantitas. Kuantitas-kuantitas tersebut diukur, dimonitor,dicatat dan untuk kepentingan tertentu dapat dimanipulasi secara aritmatik.

1.1.        Representasi bilangan
Pada dasarnya ada 2 cara untuk merepresentasikan atau menyatakan nilai bilangan dari suatu kuantitas yaitu secara analog dan digital.

1.1.1.  Representasi Analog
Pada representasi analog suatu kuantitas dinyatakan dengan kuantitas yang lain yang berbanding lurus dengan kuantitas yang akan representasikan. Contoh representasi analog adalah speedometer sepeda motor, dalam hal ini kecepatan sepeda motor dinyatakan dengan simpangan jarum speedometer, simpangan jarum speedometer selalu mengikuti perubahan yang terjadi pada saat kecepatan sepeda motor naik atau turun. Contoh lain adalah kuantitas pada mikrofon audio, tegangan output yang dihasilkan mikrofon sebanding dengan amplitudo gelombang suara yang masuk pada mikrofon, perubahan-perubahan pada tegangan output mikrofon selalu mengikuti perubahan yang terjadi pada input yang masuk pada mikrofon.
Sesuai dengan contoh-contoh diatas, kuantitas analog mempunyai karakteristik dapat berubah secara bertingkat pada suatu rentang harga tertentu. Dalam rentang terentu misalkan 0 samapai 100 Km/h kecepatan sepeda motor bisa dengan kecepatan (10 Km/h, 20 Km/h, 40 Km/h, 60 Km/h, atau 99 Km/h). Dapat disimpulkan Pada representasi analog perubahan kuantitas berlangsung secara kontinyu.

1.1.2.   Representasi Digital
Pada representasi digital Kuantitas tidak dinyatakan dengan kuantitas yang sebanding tetapi dinyatakan dengan simbul-simbul yang disebut digit. Contoh pada jam digital yang menunjukkan waktu dalam bentuk digit-digit desimal yang menyatakan Jam, menit dan detik. Perubahan menit atau detik yang terbaca dalam jam digital tidak berubah secara kontinyu tetapi berubah step demi step secara diskrit, berbeda dengan jam tangan analog yang skala penujukan waktunya berubah secara kontinyu. Dapat disimpulkan Pada representasi digital perubahan kuantitas berlangsung secara diskrit step demi step. Karena  representasi digital mempunyai sifat diskrit, maka pada saat pembacaan harga suatu kuantitas digital tidak ada penafsiran yang mendua berbeda dengan harga suatu kuantitas analog sering timbul penafsiran yang berbeda.

1.2.       Sistem Digital
Sistem digital adalah suatu kombinasi peralatan listrik, mekanis, fotolistrik dan lainnya yang disusun untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu, yang mana kuantitas-kuantitasnya dinyatakan secara digital. Beberapa alat yang menggunakan sistem digital antara lain adalah komputer digital, kalkulator, volt meter digital dan mesin-mesin yang dikontrol secara numerik. Secara garis besar sistem digital memberikan keuntungan-keuntungan berupa kecepatan, kecermatan, kemampuan memori, tidak mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan karakteristik komponen sistem dan pada umumnya mampu digunakan pada rentang pemakaian yang lebih luas.

1.3.       Sistem Analog
Pada umumnya kuantitas-kuantitas fisik prinsipnya bersifat analog, pada sistem analog kuantitas-kuantitas berubah secara gradual pada suatu rentang kontinyu. Contoh-contoh sistem analog adalah komputer analog, sistem broadcast radio, dan rekaman pita audio. Pada siaran radio AM kita dapat menalakan radio kita pada setiap frekuensi sepanjang rentang band dari 535 K Hz sampai 1605 K Hz secara kontinyu.

1.4.       Sistem Hybryd
Kebanyakan sistem pengendalian pada proses industri adalah sistem hybryd, sistem ini merupakan gabungan dari kuantitas digital dan kuantitas analog. Pada sistem hybryd terjadi konversi terus menerus antara kuantitas digital dan analog. Dalam kenyataannya hampir semua kuantitas adalah bersifat analog yang kuantitas-kuantitasnya sering diukur dimonitor dan dikontrol. Sistem pengendalian proses industri yang mempunyai kuantitas-kuantitas seperti, temperatur, tekanan, permukaan cairan dan kecepatan aliran diukur dan dikendalikan dengan sistem hybryd yang memanfaatkan keuntungan-keuntungan dari sistem digital.

Gambar 1.1. Diagram blok pengendalian sistem hybryd.  

Gambar 1.1. menunjukkan diagram blok pengendalian sistem hybryd, input kuantitas analognya diukur, kemudian kuantitas analog diubah menjadi kuantitas digital oleh konverter analog ke digital. Selanjutnya kuantitas digital  diproses oleh prosesor sentral. Hasil output dari  prosesor sentral diubah kembali menjadi kuantitas analog oleh konverter digital ke analog untuk diumpankan ke rangkaian kontroler guna memberikan pengaruh pada pengaturan harga pada kuantitas analog asal yang telah ditetapkan.

1.5 Konsep Dasar Kuantitas-Kuantitas Biner
 Kuantitas biner secara nyata pada rangkaian logika adalah saklar dua arah yang dipakai untuk menghidupkan dan mematikan lampu listrik. Dengan rangkaian ini kita dapat menyatakan setiap bilangan biner seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.2.a. yang menyatakan kuantitas biner 100102 . Contoh lain ditunjukkan pada gambar 1.2.b. lubang-lubamg pada kertas digunakan untuk menyatakan bilangan-bilangan biner, sebuah lubang adalah biner 1 dan tak berlubang biner 0.

 Gambar 1.2. Switch atau saklar dan kertas berlubang yang menyatakan kuantitas biner.

Pada sistem digital elektronik informasi biner dinyatakan oleh sinyal-sinyal listrik yang terdapat pada input dan output dari rangkaian elektronik. Pada sistem ini biner 1 dan 0 dinyatakan dengan tegangan 0 volt atau 5 volt. Semua sinyal input dan output akan mempunyai harga 0 volt atau 5 volt untuk batas toleransi tertentu.

Sabtu, 27 April 2013

Robot Ersion Juarai KRI Region IV

Surabaya - Tim robot "ERSION" dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) akhirnya menjuarai Kontes Robot Indonesia (KRI) 2013 Regional IV di GOR Bima Universitas Negeri Surabaya, Sabtu malam.
"Prestasi itu diraih Tim PENS setelah mampu mengalahkan tim robot 'RI-Vet' dari ITS saat bertemu dalam babak final KRI 2013. Sebelumnya, mereka mengikuti babak semifinal bersama Miracle SWC-8, dan New Rengganis," kata kepala Humas PENS Andri Suryandari.
Pertandingan semifinal pertama antara RI-Vet asal ITS melawan Miracle SWC-8 asal STMIK Surabaya membawa sukses tim RI-Vet dengan pencapaian Green Planet, namun tim dari STMIK Surabaya tidak kecewa, karena ketujuh "leaves" mampu menempati "hole" secara tepat.
Dalam pertandingan semifinal kedua antara New Rengganis dari Unesa dengan ERSION dari PENS juga mengundang antusiasme penonton, karena unjuk kebolehan ERSION dalam "duet spesial" antara robot manual dan automatic mencapai "The Green Planet" sebelum waktu selesai.
Hasil itu menandai "All Final's ITS" terulang untuk ke sekian kalinya pada Final KRI Regional IV dengan keunggulan PENS atas ITS secara "green planet", sedangkan juara ketiga diraih tim Miracle-SWC 08 dari STIMIK Surabaya.
Untuk juara ke 1, 2 dan 3 akan mewakili KRI Regional IV untuk melaju ke tingkat nasional di Semarang. Mereka menjuarai KRI yang diikuti 68 tim dari 25 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Timur.
Lima jenis kompetisi dalam KRI 2013 adalah KRI, Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI, divisi robot beroda dan robot berkaki), Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI), dan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) atau Humanoid.
Tahun ini, PENS mengikuti semua divisi dengan menurunkan lima tim robotnya, yakni ERSION, EILERO, EFFIRO, EROS, dan ERISA. Seleksi KRPAI divisi beroda menyaring tiga wakil dari Regional 4 yaitu Arus (Universitas Dr. Soetomo), EFFIRO (PENS), dan Al-Jazari (ITS).
Di divisi berkaki, dipilihlah EILERO (PENS) di peringkat pertama, lalu Ulil Albab (Polinema) dan terakhir Child13Sh (Unmuh Malang).
Untuk divisi berkaki, skor ditentukan melalui jarak tempuh dan banyak ruangan yang dilaluinya. Poin tambahan akan diperoleh jika robot mampu memadamkan api.
Pada divisi KRSI, enam robot berlenggok menarikan tarian Hanoman Duta. Robot V-Nara, IBRAHIMI, eSPe'04, SUGRIWA, KETEUS, dan ERISA. Akhirnya, terpilihlah ERISA, V-Nara dan eSPe'04 di peringkat 1-3 yang berlaga di KRI Nasional.
Untuk final KRSBI, EROS (PENS) bertemu dengan Ichiro (ITS). Dalam pertandingan yang terbagi dalam dua babak ini, EROS berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 10-0.
Hingga kini, seleksi telah terlaksana di 2 regional, yaitu regional 1 (Sumatera) dan regional 4 (Jawa Timur). Masih ada tiga seleksi lagi yakni seleksi regional 2 (Jakarta dan Jabar), regional 3 (Jawa Tengah) dan regional 5 (Indonesia Timur). (ant)
editor:YL.antamaputra

Sabtu, 24 September 2011

kebakaran karena non listrik


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Banyak sekali berita tentang kebakaran rumah,rumah sakit, pabrik, laboratorium dll. Banyak korban jiwa dan harta benda yang dilalap si jago merah. Sejauh-manakah masyarakat telah siap untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran di tempat sekitar mereka ? Apabila rumah sudah diansuransikan, bukan berarti mereka bisa bersikap masa bodoh terhadap bencana yang terjadi. Banyak kerugian yang mungkin terjadi, dan yang paling penting adalah kepedulian terhadap tetangga sekitarnya. Rumah-rumah di kampung saling berhimpitan, hanya dibatasi oleh satu dinding. Kebakaran tersebut sering disebabkan oleh bahan-bahan non listrik misalnya dari bahan kimia seperti gas LPG, obat nyamuk bakar dll. Untuk itu perlu difahami pula bagaimana proses terjadinya kebakaran, bahan-bahan kimia apa saja yang mudah terbakar serta bagaimana cara penanggulangannya secara benar.

1.2  Masalah atau Topik Bahasan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah atau topik pembahasan adalah sebagai beerikut :
·         Apakahyang dimaksud dengan kebakaran non-listrik?
·         Apa sajakah klasifikasiskebakaran ?
·         Bagaimana upaya penanggulan kebakaran karena non-listrik ?

1.3  Tujuan
1.      Mengetahui cara menanggulangi kebakaran yang disebabkan oleh bahan-bahan non listrik.
2.      Mengetahui klasifikasi kebakaran
3.      Mengatahui cara penanggulangan kebakaan karena non listrik.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian kebakaran
Kebakaran adalah api yang tidak dikehendaki. Boleh jadi api itu kecil tetapi apabila tidak dikehendaki adalah termasuk kebakaran. Kebakaran secara umum adalah suatu bencana/malapetaka/musibah yang diakibatkan oleh api dan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja yang menyebabkan kerugian nyawa dan harta benda.
(Dinas Pemadam Kebakaran, 2008).

2.2  Penyebab kebakaran ( non-listrik )
Bahaya penyebab kebakaran yang umum terjadi adalah sebagai berikut :
·         Api rokok
·         Bahan cair kimia mudah terbakar
·         Nyala api terbuka
·         Ketatarumahtanggaan yang buruk
·         Mekanik : peralatan mesin yang panas
·         Las (pembakaran)

2.3  Segitiga Api dan Tetrahedron Api
Api merupakan suatu reaksi kimia / reaksi oksidasi yang bersifat eksotermis dan diikuti oleh evolusi atau pengeluaran cahaya dan panas serta dapat menghasilkan nyala, asap dan bara.
(Dinas Pemadam Kebakaran, 2008).
Proses terjadinya api ini dimulai bila terdapat tiga unsur pokok yaitu bahan yang dapat terbakar, oksigen dari udara atau dari bahan oksidator dan panas yang cukup. Bilamana ketiga unsur tersebut berada dalam kondisi yang seimbang dan dalam konsentrasi tertentu, timbulah oksidasi atau dikenal dengan proses pembakaran.

Bila awal ini telah terjadi maka sebagian panas tersebut akan diserap oleh bahan bakar atau benda disekelilingnya yang kemudian melepaskan uap gas yang dapat menyala bergantiganti setelah bercampur dengan oksigen di udara, proses ini disebut reaksi berantai.
Dengan teori itu maka apabila salah satu unsur dari segitiga api tersebut tidak berada pada keseimbangan yang cukup, maka api tidak akan terjadi. Bahan yang dapat terbakar jenisnya dapat berupa bahan padat, cair maupun gas. Sifat penyalaan dari jenis-jenis bahan tadi terdapat perbedaan, yaitu gas lebih mudah terbakar dibandingkan dengan bahan cair maupun padat. Demikian juga bahan cair lebih mudah terbakar dibandingkan dengan bahan padat.

Gambar 2.3 segitiga api
Sedang mengenai sumber panas bisa bisa muncul dari beberapa sebab antara lain :
  1. Sumber api terbuka yaitu penggunaan api yang langsung dalam beraktifitas seperti : masak, las, dll. 
  2. Mekanis yaitu panas yang ditimbulkan akibat gesekan/benturan benda seperti : gerinda, memaku, dll.
  3. Kimia yaitu panas yang timbul akibat reaksi kimia seperti : karbit dengan air.
Teori baru telah dikembangkan lebih lanjut untuk pembakaran dan pemadaman. Hal-hal yang dikembangkan dalam teori ini dibuat suatu transisi dari ilmu ukur bidang gambar bersegitiga, yang dikenal sebagai segitiga api menjadi empat sisi yaitu limas (Tetrahedron) yang menyerupai suatu piramida.
Gambar 2.3 tetrahedron
2.4  Klasifikasi kebakaran
            Setiap jenis bahan yang terbakar memiliki karakteristik yang berbeda, karena itu harus dibuat prosedur yang tepat dalam melakukan tindakan pemadaman dan jenis media yang diterapkan harus sesuai dengan karakteristiknya, mengacu pada standar. Yang dimaksud dengan klasifikasi kebakaran adalah penggolongan atau pembagian atas kebakaran berdasarkan jenis bahan bakarnya.  Klasifikasi ini sangat penting untuk diketahui karena merupakan syarat-syarat pokok dalam penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Berdasarkan bahanbahan yang terbakar, kebakaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

·         Kelas A : Benda padat seperti kertas, kayu, plastik, karet, kain, dsb. 
·         Kelas B : Benda cair seperti minyak tanah, bensin, solar, tinner, gas elpiji, dsb. 
·         Kelas C : Kebakaran listrik, travo, kabel/konsleting arus listriknya. 
·         Kelas D : Kebakaran khusus seperti Besi, aluminium, konstruksi baja.

2.5  Media Alat Pemadam kebakaran
Alat pemadam kebakaran yang sifatnya umum antara antara lain Hidrant, Mobil pemadam kebakaran, Alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, dll.
Disamping itu alat pemadam api lain yang mempunyai sifat sebagai racun api, antara lain karbon dioksida, Bahan Kimia kering multi guna dan bubuk kering. Dari beberapa macam alat pemadam api tersebut masing
masing mempunyai kegunaan dan aturan tersendiri.
Inilah contoh gambar Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Gambar 2.5 alat pemadam api ringan (APAR)

2.5.1        Hydrospray
Gambar 2.5.1 Hydrospray
           Alat pemadam dengan air ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penera untuk mengetahui tekanan air. Penera berwarna hijau menunjukkan alat aman untuk digunakan, sedangkan warna merah menunjukkan tekanan sudah berkurang.

2.5.2        Drychemical Powder
         Jenis bubuk kering digunakan untuk kelas A,B, C dan D, sedang sifat pemadaman jenis bubuk kering antara lain :
·         Menyerap panas dan mendinginkan obyek yang terbakar. 
·         Menahan radiasi panas. 
·        
Gambar 2.5.2 Drychemical Powder
Bukan penghantar arus listrik. 
·         Menutup dengan cara melekat pada obyek yang terbakar karena adanya reaksi kimia bahan tersebut saat terjadi kebakaran (reaksi panas api). 
·         Menghambat terjadinya oksidasi pada obyek yang terbakar.
·         Tidak berbahaya. 
·         Efek samping yang muncul adalah debu dan kotor.
·         Dapat berakibat korosi dan kerusakan pada mesin ataupun perangkat elektronik.
·         Sekali pakai pada tiap kejadian.

2.5.3        Gas Cair Halon Free/AF 11/Halotron 1

Gambar 2.5.3 Gas Cair Halon Free/AF 11/Halotron 1
Alat pemadam gas cair ini bisa digunakan untuk semua jenis klasifikasi kebakaran. Sifat alat pemadam ini antara lain :
·         Bukan penghantar listrik
·         Tidak merusak peralatan 
·         Non Toxic (tidak beracun)
·         Bersih tidak meninggalkan bekas.
·         Memadamkan api dengan cara mengikat O2 disekitar area kebakaran
·         Penggunaan yang multi purpose (semua klas kebakaran)
·         Bisa digunakan berulang-ulang 
·         Lebih tepat digunakan di dalam ruang

2.5.4        Carbon dioksida
Racun api CO2 ini cocok dan efektif digunakan untuk pemadaman api kelas B dan C. Sifat-sifatnya antara lain :

          Bersih tidak meninggalkan bekas.
          Non Toxide ( tidak beracun ).
          Bukan penghantar listrik.
          Tidak merusak peralatan ( elektronik / mesin )
          Cara pemadaman dengan mendinginkan dan menyelimuti obyek yang terbakar.
          Tepat untuk area generator dan instalasi listrik.
          Tekanan kerja sangat besar.

2.5.5        Racun Api Busa
Racun api berupa busa hanya digunakan untuk jenis kebakaran kelas A dan B. Cara kerjanya menyelimuti dan membasahi obyek yang terbakar. Jika obyek yang terbakar benda cair, racun api busa ini bekerja menutup permukaan zat cair.
Sifat lainnya yaitu penghantar arus listrik sehingga tidak dapat digunakan pada ruang yang berisi peralatan komponen listrik.

2.5.6        Fire Sprinkler System
Gambar 2.5.6 Fire Sprinkler System
Alat ini biasanya terinstal didalam gedung dan bersifat mengandung Hg. Mekanisme kerja sprinkler yaitu secara otomatis akan mengeluarkan air bila kepala sprinkler terkena panas.
Prinsip dasar alat ini adalah mampu menyerap kalor yang dihasilkan dari bahan yang terbakar.
2.5.7        Hydrant
Digunakan untuk jenis api kelas A dan B.



Gambar 2.5.7 Hydrant


Secara ringkas, penggunaan media racun api
berdasarkan klasifikasi bahan terbakar jadi begini :

Tabel 2.5  klasifikasi kebakaran dengan media racun api

2.6  Pengertian pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
Pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran adalah semua tindakan yang berhubungan dengan pencegahan, pengamatan dan pemadaman kebakaran yang meliputi perlindungan jiwa dan keselamatan manusia serta perlindungan harta kekayaan. Pencegahan kebakaran lebih ditekankan pada usaha-usaha yang memindahkan atau mengurangi terjadinya kebakaran. Penanggulangan lebih ditekankan pada tindakan-tindakan terhadap kejadian kebakaran, agar korban tidak terlalu banyak.

Pencegahan kebakaran dan pengurangan korban kebakaran tergantung dari lima prinsip pokok sebagai berikut :
·         Pencegahan kecelakaan sebagai akibat kecelakaan atau keadaan panik.
·         Pembuatan bangunan yang tahan api.
·         Pengawasan yang teratur dan berkala.
·         Penemuan kebakaran pada tingkat awal dan pemadamannya.
·         Pengendalian kerusakan untuk membatasi kerusakan sebagai akibat kebakaran dan tindakan-tindakannya.

Pemberantasan kebakaran adalah daya upaya untuk menghindari suatu peristiwa kebakaran yaitu : memadamkan, melokalisir, mengamankan harta benda, jiwa, mencari atau menyelidiki sebabsebab kebakaran dan rehabilitasi. Jadi pemberantasan kebakaran adalah usaha yang dilakukan setelah terjadi musibah kebakaran.

2.7  Cara pencegahan dan penanggulangan kebakaran
1.6.1 Pencegahan           
1.      Sudahkah kompor dimatikan? Kompor minyak tanah dan gas harus di rawat dengan baik, sehinnga api bisa menyala dengan baik. Untuk kompor minyak tanah, pastikan sumbu kompor masih panjang. Untuk kompor gas pastikan tidak ada kebocoran di selang atau sistem yang lain. Kalau perlu dipasang gas detector.
2.      Lampu penerangan dengan bahan bakar minyak sebaiknya dimatikan sebelum tidur.
3.      Apabila menggunakan nyamuk bakar, pastikan ditaruh di tempat yang aman. Jauh dari benda-benda yang mudah terbakar.
     1.6.2 Penanggulangan
1.      Pasang detektor asap di langit-langit rumah, di luar kamar tidur dan disetiap lantai untuk rumah betingkat. Alat ini perlu di test setiap bulan untuk memastikan selalu dalam kondisi baik.
2.      Sediakan alat pemadam kebakaran untuk tipe kebakaran kelas A,B dan D di rumah anda. Apabila anda tidak bisa membelinya, siapkanlah selimut pemadam (fire blanket) untuk di dapur dan kamar tidur. Juga pemadam kebakaran, untuk rumah pakailah pemadam kebakaran jenis bubuk (powder).
3.      Apabila anda tidak mau membeli peralatan di atas, persiapkanlah pemadam kebakaran dari ledeng rumah. Siapkan selang yang cukup panjang, dan quick connection. Pasang beberapa qucik connection di keran rumah anda, terutama apabila rumah anda cukup luas. Sehingga ada beberapa titik untuk bisa memasang selang anda dengan cepat.
4.      Juga sebagai pengganti fire blanket, sediakan karung goni (karung beras yang terbuat dari serat manila hennep). Basahi karung goni sebelum dipakai untuk memadamkan api.
5.      Panggil pemadam kebakaran apabila masih sempat. Pasang nomor penting dekat telephone, atau program telephone untuk nomor-nomor penting. Ingat bahwa mereka tidak akan datang dalam waktu singkat, kemungkinan api telah berkobar lebih besar.
Selain itu, usaha untuk menanggulangi kebakaran :
1.      Pasang poster-poster peringatan di berbagai tempat disekitar kita.
2.      Penyuluhan dan pelatihan tentang pemadam kebakaran 
3.      Adanya SOP cara pengoperasian pada tabung pemadam 
4.      Usahakan bak kamar mandi selalu penuh






BAB III
KESIMPULAN
3.1  Kesimpulan
Dari semua pembahasan dapat disimpulkan bahwa Kebakaran non listrik adalah api yang tidak dikehendaki yang disebabkan oleh bahan non listrik seperti, bahan-bahan kimia, nyala api terbuka, dan mekanik yang panas. selain itu, terjadi karena adanya unsur bahan bakar, panas dan oksigen yang berjalan cepat dan seimbang yang bisa disebut dengan segitiga api dan tetrahedron. Berdasarkan bahan-bahan yang mudah terbakar, kebakaran di klasifikasikan menjadi empat  kelas dan yang termasuk kebakaran non listrik yaitu kelas A,B dan D. oleh sebab itu, agar tidak terjadi kebakaran perlu adanya penanggulangan seperti menyiapkan media alat pemadam kebakaran.

3.2  Saran
Cara penanggulangan kebakaran karena non listrik bisa dilakukan secara efektif dengan cara memasang detektor asap di langit-langit rumah, menyediakan alat pemadam kebakaran untuk tipe kebakaran kelas A,B dan D, mempersiapkan pemadam kebakaran dari ledeng rumah, dan memasang nomor penting dekat telephone. Selain itu, penanggulangan untuk jangka panjang dapat dilakukan dengan cara  memasang poster-poster peringatan di berbagai tempat disekitar kita, mengadakan penyuluhan dan pelatihan tentang pemadam kebakaran , dan mengadakan adanya SOP cara pengoperasian pada tabung pemadam.




DAFTAR PUSTAKA
Sebaskoro.2007.Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran,serta PenyelamatanDiri.(oline).(http://sbaskoro.wordpress.com/2007/11/01/pencegahan-dan-penanggulangan-kebakaran-serta-serta-penyelamatan-diri/)diakses 1 September 2011.
Rahayunnisih,Ari.2009.Laporan Khusus Instalasi Apar dan Fire Alarm System sebagai Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran dalam Peningkatan Keselamatan Kerja.(online).( http://www.digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/101341009200908311.pdf)diakses 1 september 2011.
Usman,Anif.Penanganan Kebakaran dan Alat Pemadamnya.(online).( http://lansida.blogspot.com/2010/11/penanganan-kebakaran-dan-alat.html)diakses 1 September 2011.








.